Budaya Lokal Untuk Memperkokoh Ketahanan Budaya Bangsa

Begitu banyak kelebihan dan peran serta budaya lokal dalam upaya memperkokoh ketahanan bangsa,namun selain memiliki keunggulan kebudayaan lokal juga memiliki kelemahan dalam memperkokoh ketahanan bangsa. Dari penjelasan diatas, saya merekomendasikan, seharusnya kita sebagai masyarakat Indonesia ikut melestarikan budaya bangsa dan mempelajarinya karena dengan itu kita dapat bersatu sehingga budaya lokal dan ketahanan budaya bangsa dapat

Bagi bangsa Indonesia dalam menerapkan budaya lokal sangat perlu dilestarikan agar selalu memperkokoh ketahanan budaya kita dan bagi masyarakat pun ikut serta dalam hal tersebut untuk menjadi yang terbaik, karena apabila bukan kita yang

Dengan mengetahui peranan – perananya, maka pembaca akan mengetahui betapa budaya lokal sangat berperan dalam mengembalikan jati diri bangsa. Oleh karena itu, para pembaca diharapkan dapat melestarikan budaya bangsa kita. Adapun latar belakang saya menulis makalah yang berjudul Peran Budaya Lokal Memperkokoh Ketahanan Budaya Bangsa adalah untuk memenuhi tuntutan mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Selain karena itu pada saat sekarang ini kita sering menemukan

Makalah ini diadakan dengan tujuan untuk mengetahui peran budaya lokal memperkokoh ketahanan budaya bangsa, khususnya di Negara Indonesia yang memiliki beraneka ragam budayanya, sehingga mempunyai adat istiadat yang berbeda-beda. Tugas ini tentunya dikhususkan bagi generasi penerus bangsa yang mulai mengabaikan pentingnya peranan budaya lokal untuk memperkokoh ketahanan budaya dan jati diri bangsa.

Comments

Upaya Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Semangat Mengembalikan Jati Diri Bangsa pada hakekatnya merupakan kewajiban setiap rakyat. Bukan hanya para pejabat atau pun. Sekuat apapun usaha kita; Sebesar apapun semangat kita dalam mengembalikan jati diri bangsa Indonesia jika tidak diiringi dengan doa, hanya akan berakibat kesombongan pada Yang Maha Berkuasa. So, selain semangat dalam kerja keras,
Mengembalikan Jati Diri Bangsa Indonesia memang memerlukan sebuah pemimpin yang memiliki kepemimpinan yang unggul. Tapi, apa sih sebenarnya arti kepemimpinan.

Sebagai langkah awal Mengembalikan Jati Diri Bangsa.. dan menemukan Hakikat manusia seutuhnya diperlukan kesadaran akan diri sebenar diri.. Taubatan Nasuha.. yayayaya.. seluruh Negeri harus bertobat sungguh sunggu.. bebenah diri dan

Harga diri bangsa sempat dipertaruhkan beberapa waktu yang lalu, bangsa kita seringkali mengancam Malaysia baik dengan umpatan secara langsung maupun teguran dari pemerintah (Pernah nggak ya…?). Dalam upaya mengembalikan jati diri

Ramah lingkungan, ramah terhadap masyarakat di mana kita berada dan hidup bermasyarakat serta banyak lagi kerja keras dan upaya positif yang dapat kita lakukan demi mengembalikan jati diri bangsa dan ciri khas serta karakter bangsa

Apakah Anda ingin membaca lebih banyak buku Barat tetapi khawatir bahwa Anda mengembalikan jati diri bangsa mungkin memilih salah satunya yang berubah menjadi usaha yang membosankan percayalah aku tahu bagaimana perasaanmu.

Comments

Mulailah Berwirausaha Justru di Saat Kita Tidak Punya Apa-apa

Waktu kuliah dulu saya punya teman yang pandai dan memiliki wawasan dunia bisnis yang lumayan. Ide-ide rencana usaha yang muncul dari pemikirannya sangat cemerlang. Selalu saja, ide-ide itu adalah ide bisnis yang menarik, prospektif, dan berpeluang besar untuk digarap. Semua teman kuliah berdecak kagum dengan lontaran ide-idenya.

Tetapi ide-ide itu tinggal ide saja. Sampai hari ini belum ada satu pun bisnis yang pernah dijalankannya. Malahan, terakhir saya ketemu dia, berstatus karyawan sebuah perusahaan publik di Jakarta. Dia memang terlalu pandai untuk merencanakan sebuah usaha sekaligus terlalu takut untuk memulai.

Ada juga mahasiswa yang pernah datang pada saya. Dia menyatakan ingin berwirasusaha, kemudian dia mengatakan, bahwa dirinya belum punya modal dan tidak begitu pandai. Saya katakan pada dia: “Kebetulan!” Kemudian saya katakan lagi: “Jangan takut, karena modal utama untuk memulai bisnis adalah keberanian.” Mengapa saya katakan seperti itu? Sebab, biasanya kalau terlalu pinter itu malah terlalu berhitung.

Orang yang tahu banyak hal, maka dia akan tahu banyak risiko dan halangan di depannya. Hal itu menurut saya justru akan menciutkan nyalinya. Saya malah pernah bilang pada seorang sarjana yang ingin berwirausaha. Saya katakan: “Sekarang, abaikan ijazahmu. Buatlah dirimu seolah-olah tidak punya apa-apa, kecuali semangat dan keinginan yang kuat.” Saya teruskan: “Mulailah berwirausaha justru pada saat Anda tidak punya apa-apa. Saat Anda merasa tertekan. Saat Anda tidak dapat berbuat apa-apa dengan ijazah Anda. Saat Anda kebingungan karena harus bayar kredit rumah. Atau pada saat Anda merasa terhina.”

Memang nasehat saya ini agak berbeda dengan kebanyakan orang. Biasanya orang menyarankan, kalau mau usaha sebaiknya mengumpulkan modal dulu, kemudian cari tempat dan seterusnya. Tetapi, banyak orang sukses sebagai wirausahawan justru dimulai dari sebaliknya, hanya punya semangat dan tidak punya apa-apa.

Kondisi yang ada memaksa mereka harus “bermimpi” tentang masa depannya, kemudian tertantang untuk menggapainya, dan berusaha keras untuk mewujudkannya. Anda tentu tahu atau paling tidak pernah mendengar nama Steve Jobs. sebelumnya dia bukan siapa-siapa. Jobs hanyalah anak muda yang gemar bercelana jeans belel dan berkantong kempes. Belakangan, dia membuat Apple Computer di garasi rumahnya, dan mendirikan perusahaan yang masuk Fortune 500 lebih cepat dari siapapun sepanjang sejarah.

Jobs adalah contoh seorang entrepreneur yang berhasil dalam berwirausaha, justru bukan karena kepandaiannya di bangku kuliah. Tapi, karena ia memiliki keberanian dan keyakinan akan usaha yang digelutinya. Dia mampu bertindak merealisasi gagasannya dengan meninggalkan lingkungan kuliah dan teman-temannya yang suka berhura-hura.

Tapi, saya tidak menyarankan Anda untuk mengabaikan pendidikan. Hanya saja, saya ingin mengatakan, bahwa untuk menjadi entrepreneur atau wirausahawan terlebih dahulu dibutuhkan keberanian memulai (bertindak), untuk memanfaatkan peluang bisnis yang ada. Hal tersebut harus segera dilakukan, sebelum orang lain mendahuluinya. Kepandaian akademis akan diperlukan bila usaha kita sudah berjalan, dan itu bisa kita dapatkan dengan mengikuti kuliah lagi, atau kita bisa membayar orang-orang pandai sebagai karyawan atau konsultan. (Purdie E Chandra)

Tulisan ini dipublikasikan kembali dalam rangka meramaikan kontes Mencari Blogpreneur Sejati.

Comments (1)

« Previous entries